Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Mengajarkan Kejujuran Kepada Anak, Langkah Kecil Untuk Indonesia Bebas Korupsi

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.
Keluarga Kecil Berani Jujur
Korupsi? Ya, kegiatan memperkaya diri sendiri dengan cara ilegal ini masih marak terjadi di Indonesia. Walaupun korupsi dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa, tetap saja masih banyak yang tergoda melakukannya. Pantas saja republik ini terseok-seok dalam mengentaskan kemiskinan, menciptakan pemerataan kesejahteraan dan melakukan pembangunan yang berkelanjutan.

Beruntung bangsa ini punya KPK beserta penegak hukum lainnya, paling tidak upaya menangkap para koruptor tetap berjalan secara silmultan.

Sebagai orang awam, saya paling seneng melihat berita tentang keberhasilan KPK melakukan operasi tangkap tangan para koruptor. Terkadang mengejutkan karena saya tidak menyangka sama sekali kalau bapak A, B atau C yang notabene adalah pejabat negara keluar gedung KPK dengan baju oranye bertuliskan "Tahanan KPK". Saya juga tidak menyangka bila ibu D, E atau F yang selalu santun berbicara di televisi harus memakai baju yang sama. Sampai bingung siapa yang harus dipercaya....

Penindakan Kasus Korupsi 2015
Coba kita cermati data annual report 2015. Komisi Anti Korupsi (KPK) sukses mengungkap 57 kasus praktik korupsi di republik ini. Bila ditilik berdasarkan instansi atau kelembagaan, kementerian/lembaga paling banyak dihinggapi kasus korupsi (21 kasus) disusul berturut-turut adalah korupsi yang terjadi di tingkat propinsi (18 kasus), pemkab/pemkot (10 kasus), BUMN/BUMD (5 kasus) dan DPR-RI (3 kasus).

Korupsi by Lembaga
Bila dilihat berdasarkan profesi, ternyata anggota DPR & DPRD mendapatkan predikat terbanyak terlibat kasus korupsi (19 kasus), swasta (18 kasus), pejabat eselon I,II & III (7 kasus), Walikota, bupati dan wakil (4 kasus), gubernur (4 kasus), kementerian/lembaga (3 kasus), hakim (3 kasus) dan lain-lain (5 kasus).

Korupsi by profesi
Nah, kalau dilihat dari jenis perkara/modusnya, penyuapan masih menjadi modus paling banyak dengan 38 perkara. Walaupun modus ini "dianggap model klasik", tetapi dalam lima tahun terakhir, modus ini selalu menjadi yang paling banyak terungkap.

Selain penyuapan, kasus korupsi yang menonjol adalah pengadaan barang sebanyak 14 kasus dan penyalahgunaan anggaran sebanyak 2 kasus. Masing-masing 1 kasus diungkap adalah terkait perijinan, pungutan liar dan pencucuian uang.
Korupsi by kasus
Dari kasus-kasus yang diungkap KPK di tahun 2015 tersebut, 38 kasus diantaranya telah mempunyai kekuatan hukum tetap.  Nah, berkat putusan berkekuatan hukum tetap tersebut ini KPK berhasil menyelamatkan uang sebanyak Rp 198 miliar hasil korupsi. Uang tersebut kemudian dikembalikan kepada negara dalam bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari penanganan perkara, untuk pembangunan.

Korupsi Sebuah Kompleksitas
Saya suka mumet sendiri menebak-nebak bagaimana sih korupsi ini bisa terjadi. Tetapi, kalau dipikir-pikir korupsi terjadi karena adanya niatan (intention/desire) para pelakunya. Niatan ini difasilitasi oleh sikap (attitude) dari ekosistem di sekelilingnya. Artinya, perilaku korupsi bukan suatu peristiwa atau kegiatan yang berdiri sendiri, akan tetapi sebuah kompleksitas yang menyangkut banyak hal sebagai sebuah sebab akibat.
DIRECT POINTS
Sepanjang tahun 2015, KPK telah mengungkap 57 kasus korupsi, 38 kasus telah inkrah'
Sejumlah 198 M telah dikembalikan ke bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari penanganan perkara;
Korupsi bukan peristiwa berdiri sendiri tetapi sebuah kompeksitas sebab akibat;
Korupsi adalah sebuah prilaku akibat buruknya moral pelakunya karena jauh dari nilai-nilai agama;
Pendekatan religi/agama menjadi solusi paling utama menyelesaikan masalah moralitas;
Pemberantasan korupsi membutuhkan dukungan semua element bangsa;
Partisipasi masyarakat bisa dimulai dari keluarga dengan mengajarkan kejujuran pada putra-putrinya; 
Kejujuran walaupun kecil mempunyai dampak besar bagi moralitas anak di masa depan;

Sesungguhnya speak-speak tentang korupsi itu belum ketemu akarnya. Ibarat pohon nih, kita masih bicara tentang daunya, rantingnya, dahan-dahannya mungkin juga tentang batangnya sedangkan akarnya belum ketemu. Kok begitu? Iya, bisa jadi karena akarnya tidak kelihatan karena terpendam jauh di dalam kegelapan tanah.

Petanyaannya, bagaimana pohon bisa mati kalau hanya ditebang batangnya, apalagi hanya sekedar memotong daun atau rantingnya.

Satu-satunya cara mematikan pohon secara permanen adalah mencabut hingga akar-akarnya. Begitu pula halnya dengan korupsi. Itulah kenapa walaupun penegakan hukumnya begitu masif, KPK telah memenjarakan begitu banyak para koruptor, tetapi korupsi masih saja terjadi disana-sini.

Hal itu disebabkan akar permasalahan korupsi belum bisa ditemukan secara pasti. Korupsi di negara kita masih dilihat secara parsial, sesuai dengan bidang ilmu masing-masing. Ada yang menyoroti dari sisi organisasi karena alasan SOP dan lemahnya pengawasan, adanya memberi solusi dari sisi penegakan hukum (Law Enforcement) atau dari sisi sosial dan budaya. Walaupun menurut saya hal ini belum menyentuh akar, tetapi turut memperkaya wacana pemberantasan korupsi di Indonesia .


Akar Korupsi : Moralitas
Saya menyakini bahwa korupsi itu sebuah perilaku (buruk). Sedangkan perilaku buruk seseorang terbentuk karena akhlak yang buruk pula. Nah, ketika kita bicara akhlak dan moral maka mau tidak mau kita membicarakan tentang moralitas yang diatur oleh tata nilai, dogma dan doktrin tentang baik-buruk, benar dan salah. Sedangkan satu-satunya tempat yang menjelaskan tentang hal ini secara mutlak hanyalah ajaran agama.

Jadi menurut saya, akar permasalahan korupsi adalah karena seseorang tidak bermoral karena tidak benar-benar menjalankan ajaran/syariat agama dengan baik dan benar. Itu saja. Agama mana sih yang mengajarkan tentang keburukan. Agama mana yang mengajarkan ketidakjujuran. Semua agama di dunia pasti mengajarkan untuk tidak mencuri, merampok dan merampas hak orang lain.
Akar Korupsi

Kami Memulai Dari Keluarga
Pemberantasan korupsi membutuhkan dukungan siapapun yang merasa bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa satu, Indonesia. Itu berarti kami terlibat didalamnya. Kami pun merasa memiliki bangsa ini dan selalu semangat untuk berpartisipasi dalam program pemerintah dalam upaya memberantas korupsi yang masih bermunculan disana-sini. Langkah kecil kami dimulai dari keluarga sendiri. 

Kami menyakini prilaku korupsi disebabkan akhlak yang buruk akibat tidak berimannya seseorang, oleh sebab itu langkah dasar yang kami lakukan adalah membekali keluarga dengan pendidikan agama. Salah satu inti ajaran agama yang selalu kami tekankan adalah menerapkan sikap jujur dalam segala hal. Walaupun sepele dan kecil, tetapi kejujuran kecil ini akan berdampak besar bagi perilaku anak-anak kami di masa yang akan datang.

Prinsip kami adalah “You TELL me I'll FORGET but IF you SHOW me I'll REMEMBER”, artinya sebagai orang tua, kami tidak hanya sekedar memberi nasehat agar putra-putri kami berani bersikap dan memegang prinsip AKUANAKJUJUR, tetapi kami pun dituntut untuk mencontohkan dalam interaksi keluarga sehari-hari.

Kami sadar bahwa kecenderungan anak adalah imitatif (meniru) sehingga kami sangat berhati-hati dalam bersikap dan bertutur kata apalagi di depan putra-putri kami. Ini dia 4 (empat) kebiasaan di keluarga kami dalam berinteraksi dan melatih kejujuran pada anak.

4 Cara Kami Melatih Kejujuran



Apa yang kami ajarkan sedikit banyak membuahkan hasil. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut,
Pada bulan Romadhlon kemarin Si kecil Ayunda mengikuti Festival Anak Taqwa yang diadakan RSI PDHI Kalasan untuk lomba hafalan Juz 'Amma. Pesertanya umum setingkat SD dan SMP. 

Sebelum lomba, juri memberikan lembaran kertas yang harus diisi semua peserta tentang surah-surah mana yang belum dihafal. Saya tidak menyangka kalau Ayunda memasukan beberapa surah dalam list sebagai yang belum hafal.

Padahal saya tahu kalau Ayunda sudah hafal seluruh surah dalam Juz 'Amma tersebut karena selain ustaz dan ustazahnya di sekolah, saya pun setiap habis mahgrib atau setiap ada kesempatan selalu mengetes hafalanya.
Nah, sambil menunggu pengumuman lomba, Ayunda cerita sendiri yang kepada saya tentang hal itu. Saya pun heran dan menanyakan, kenapa begitu. Ayunda menjawab,

"Ayunda masih ragu hafalan surah-surah itu ma. kadang hafal, kadang lupa karena beberapa ayat di tengah ada yang hampir sama bacaanya.

Dari pada nanti ditanyakan juri dan gak bisa jawab, mending Ayunda jujur kalau memang belum 100% hafal surah-surah itu, ma. Maaf ya ma..."

Terima kasih Ya Allah, Engkau bimbing putri kami! Kejujuran Ayunda ternyata membawa berkah. Ia berhasil menjadi juara 1, mengungguli peserta-peserta yang lain bahkan yang lebih senior darinya.
Ayunda

Sikap jujur Ayunda juga berkat didikan ustad-ustazahnya di sekolah. Sampai saat ini Ayunda paling anti, tidak mau dan akan marah besar bila kakaknya mau membantu mengerjakan PR sekolahnya. Dia selalu bilang "Enggak..enggak boleh. Uztadzah Roffi bilang harus jujur ngerjakannya, nggak boleh dikerjain orang tua atau siapapun." Padahal kakaknya hanya bermaksud membantunya saja.

Demikian juga dengan Arya, putra kami yang pertama. Apapun tugas sekolahnya, dia berusaha untuk mengerjakan sendiri walaupun hasilnya kadang kurang memuaskan. Tetapi itulah kenyataannya. Insya Allah, Arya pun menerapkan kejujuran yang kami ajarkan dari mulai hal kecil.
Arya

Sebagai orang tua, kami hanya bisa mendampingi, menasehati mereka dan memberi contoh, bahwa menjadi apapun kelak, di manapun berada, dalam kondisi apapun agar mereka tidak meninggalkan sholat dan ajaran agama serta selalu berbuat baik dan jujur. Hal inilah yang akan membuat hidup terhormat di mata manusia dan Tuhan.

Kiranya artikel ini bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya untuk Indonesia yang lebih baik dan sejahtera, bebas dari perilaku korupsi.


 Referensi :
1. acch.kpk.go.id
2. annual report KPK 2015

    



Si Cantik Juara Renang

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.
Perenang Kecil


Selasa (10/2) kemarin Ayunda ditunjuk ustadzahnya mengikuti seleksi lomba dalam rangka Olimpiade Olah Raga Siswa Nasional (OOSN). Kegiatan - yang dulu disebut Porseni- dilaksanakan selama dua hari mulai 10-11 Pebruari 2015 dan diikuti 6 Sekolah Dasar di Gugus 4 Purwobinangun Kalasan.   

Ada 7 cabang olah raga yang dipertandingkan pada seleksi OOSN tahun ini yakni Sepak Bola, Bola Volly, Bulu Tangkis, Catur, Atletik, Tenis Meja dan Renang. Ayunda mewakili SDIT Ukhuwah Islamiyah Kadirojo Kalasan untuk cabang olah raga renang. 

Seleksi renang yang dilaksanakan di Kompleks Perumahan Permata Hijau Kalasan ini mempertandingan 2 nomor yakni gaya bebas dan gaya dada. Ayunda antusias sekali mengikuti kedua nomer tersebut. 

Dari semua peserta, Ayunda adalah peserta paling muda di antara peserta yang lain karena masih duduk di kelas 1. Panitia seleksi memang tidak membagi per usia peserta tetapi per nomor gaya. Itu artinya Ayunda bertanding melawan peserta yang lebih senior dan lebih besar darinya, yang duduk di kelas 4 dan 5. 

Saya sudah menduga sebelumnya atas ketentuan ini. Oleh sebab itu dalam banyak kesempatan, saya selalu menasehati Ayunda untuk tidak takut atau minder dengan kondisi apapun dalam setiap perlombaan. Saya selalu mendoktrin Ayunda bahwa lawan sesungguhnya adalah WAKTU

Alkhamdulillah, atas berkat dan rahmat Allah SWT, Ayunda tampil sebagai Juara 1 dengan akumulasi waktu paling rendah. Ayunda berhasil mematahkan perlawanan peserta lain yang lebih senior darinya. Berkat kemenangan ini, Ayunda dinyatakan lolos seleksi dan berhak mengikuti kompetisi antar gugus sekecamatan Kalasan yang akan dilaksanakan pada awal Maret 2015 di Depok Sport Center Seturan Yogyakarta. 

Sebagai Ibu tentulah bangga atas prestasi ini. Dengan tambahan satu piala dari olah raga renang, Ayunda telah mengumpulkan 17 piala dari berbagai lomba yang diikutinya sejak masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Semoga terus berprestasi, bersyukur dan tetap rendah hati.



CJY

  
CJYCJY

CJYCJY





Meninggalkan Gaya 'Memerintah' Pada Anak : Sebuah Pengalaman

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.

ilustrasi



Meninggalkan Gaya 'Memerintah' Pada Anak : Sebuah Pengalaman - Mempunyai anak ABG butuh usaha extra untuk mendampinginya. Umur  7 - 12 tahun itu sangat sulit 'berdamai' dengan perintah-perintah orang tua. Membantah, protes dan 'sak enake dewe' bergitu kata orang. Itu benar, saya setuju dengan itu.  I am in, guys ! 

Walaupun dalam teori perkembangan anak menjelaskan bahwa hal itu normal, tetapi saya tidak ingin menjadi bahasa pembenaran yang membuat lupa mengajari anak tentang bagaimana mensikapi hidup dengan baik. Usaha extra itu adalah bagaimana memberi dasar kepada anak dengan 'memaksa' melakukan ritual kehidupan ala orang dewasa dalam kadar yang dimampui anak. Apakah itu, yakni membiasakan anak sholat sedari dini.

Dalam banyak kasus, orang tua mengalami kesulitan setengah mati menyuruh anaknya untuk sholat. sama sulitnya menyuruh anaknya belajar, membaca kembali pelajaran sekolah, mengerjakan PR atau melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, melap vas bunga, dan lain sebagainya. Inilah yang saya katakan bahwa anak memang mempunyai kecenderungan 'melawan' dan tak mau berdamai dengan kehendak orang tua.       

.: Bisikan Hati 
Saya mengambil resiko dicemberutin dan menjadi sangat cerewet pada anak-anak karena harus membangunkan untuk sholat ketika anak-anak masih tidur disaat jam sholat telah tiba. Memanggil, menghampiri dan memaksa pulang bila waktu bermain sudah bersinggungan dengan waktu sholat. Ya, ada perasaan kasihan dan tak tega, tetapi jauh lebih berbahaya membiarkannya anak-anak melupakan kodratnya sebagai manusia, pikir saya.

Saya masih berlaku seperti orang tua pada umumnya yakni menyuruh dan terus menyuruh. Semakin saya menyuruh semakin besar penolakan itu. Timbullah amarah. Akhirnya muncul rasa kwatir jangan-jangan kontraproduktif dan berakibat kurang baik pada psikisnya kelak.

Saya mengeluh dan minta untuk di mudahkan oleh Allah.  Petunjuk Allah pun datang dalam bentuk bisikan dalam hati sehabis sholat dhuha,"Ajak berjamaah dan contohkan" Sound is like that !

Tak butuh berfikir lama, sepulang sekolah anak-anak langsung saya ajak untuk sholat berjamaah. Bila di rumah, ayahnyalah yang menjadi Imam. Seringkali, dengan tetap duduk diatas sajadah masing-masing, sehabis sholat ayahnya ngajak diskusi tentang sesuatu hal, menanyakan aktifitas dan pelajaran sekolah, menasehati ini dan itu pada anak-anak.

Walhasil, sejak saat itu, tidak sekalipun anak-anak membantah bila diajak sholat. Bahkan seringkali ngajak jamaah duluan sebelum melanjutkan aktifitas lainya. Tidak lagi ada sholat sendiri-sendiri dirumah, selalu berjamaah dan tepat waktu. Anehnya, anak-anak justru minta dibangunkan 2/3 malam untuk tahajjud bersama. Mungkin ini yang disebut bonus tambahan, Double Strike ! 

.: If You Show Me and Then.... 
Saya teringat sebuah quotation yang sering dipakai dalam training-training yakni If you show me I'll remember but if you tell me, I'll forget. - 100% saya tidak menyangkal itu. Persis maknanya seperti bisikan hati yang saya alami.

So, saya mulai meninggalkan 'gaya perintah' dalam mendidik anak-anak dan menggantinya dengan pola mengajak,  memberi clue, menunjukkan cara, serta pendampingan yang cukup. Akhirnya malah memberi manfaat lebih karena menggerus sedikit demi sedikit sikap amarah. Tahukah kenapa ? karena anak-anak tidak lagi melawan.

Alkhamdulillah..- Meninggalkan Gaya 'Memerintah' Pada Anak : Sebuah Pengalaman




"Marlboro Boys" Potret Kebiasaan Merokok Anak Dibawah Umur Indonesia

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.
anak merokok

Indonesia kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan karena prestasinya akan tetapi karena budaya merokok masyarakat yang sedemikian memprihatinkan. Posting berikut adalah hasil terjemahan berdasarkan judul aslinya yang ditulis oleh Adams Glanzman, ‘Marlboro Boys': Photographing Underage Smoking in Indonesia', dimuat pada media online Time Lightbox (18/8/2014)

-----

Ketika kebiasaan buruk merokok menurun di banyak negara barat, jstru sebaliknya apa terjadi di Republik Indonesia dimana lebih dari 60% penduduk laki-laki adalah perokok aktif dan akrab dengan tembakau. Femonema ini mengundang ketertarikan fotografer Kanada, Michelle Siu, untuk mendokumentasikan.

Merokok telah menjadi kebiasaan yang membudaya di Indonesia dimana beberapa anak melakukan kebisaan merokok sejak usia empat tahun. "Masalah rokok di Indonesia adalah masalah yang kompleks sangat erat hubungannya dengan kebudayaan sebuah bangsa, politik dan ekonomi. Disetiap jengkal wilayah di Indonesia akan dengan mudah didapati iklan rokok dan seseorang yang sedang berokok." Cerita Siu pada Majalah TIME.

Ekonomi Indonesia tergantung pada industri tembakau, yang telah terbukti sangat menguntungkan. Banyak orang Indonesia memiliki mata pencaharian sebagai petani tembakau, dan dikelilingi oleh rokok sejak usia dini. 

Peraturan tetang merokok di Indonesia masih longgar. Tidak jarang melihat anak-anak merokok di bus-bus umum dalam perjalanan dari dan ke sekolah. "Sulit bagi pemerintah untuk benar-benar mengatur dan membuat regulasi tentang industri ini di Indonesia," kata Siu. "Ini sesuatu yang mendatangkan banyak uang bagi negara." Lanjut Siu.

Sebagai putri orang tua imigran, Siu sangat tertarik pada kisah ini dan mengatakan bahwa ini adalah "budaya dan kebiasaan yang  benar-benar mengancam dan membunuh"


Indonesia Smoking Zone


Dalam Marlboro Boys, Siu menyoroti hilangnya wajah polos anak-anak "Mereka menghirup dan menghembuskan napas seperti orang tua ketika merokok dan ini telah dilakukan selama bertahun-tahun. Beberapa dari mereka bahkan mengkonsumsi rokok dua bungkus sehari sejak mereka masih anak-anak "

------

Indonesia memang seru dan hebat ya, sering menjadi sorotan dunia internasional. Seperti kata Sutan Batugana, "Ngeri-Ngeri Sedap" !




Hobby Si Ayah Yang Belum Menurun Ke Anak

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.


Hobby Si Ayah Yang Belum Menurun Ke Anak | Suamiku mempunyai hobby bermain musik. Hampir semua jenis musik disukainya dari pop, rock hingga musik ndang dut. Hobby ini ditekuni sejak kuliah kuliah di Jember Jawa Timur. Pada waktu kuliah dulu pernah buat group band yang diberi nama "Bintang Kecil".

Band ini adalah band bentukan UKM Kesenian dikampus. Sebelum bubaran, Bintang Kecil pernah menjadi group pembuka Konsernya GIGI (Armand Maulana Cs ) di Gor Jember.  Salah satu personil Bintang Kecil yang masih exist adalah, Bagun Santioso DH, malah beberapa kali tampil dalam clip group band Jivana asal Magetan. 


Ketika kasih nganggur selepas lulus kuliah, pernah juga membentuk group musik ndangdut yang sering manggung di acara hajatan dan kegiatan lain kampung. Group ndangdut ini sepertinya bubar karena masing-masing anggotanya bekerja atau pindah tempat tinggal. Seperti kami yang menikah dan memutuskan untuk pindah ke Purwokerto.  
Hobby bermain musik suami terus berlanjut hingga kami pindah ke Yogyakarta, 5 tahun lalu. Kali ini dengan teman-teman sekantornya membuat sebuah group Band Karyawan bernama SEGITIGA. Namanya aneh ya...kalau ditambah kata Biru jadi Segitiga Biru. He..he...he...

Beberapa kali saya dan anak-anak menemani suami kalau pas lagi latihan atau perform di acara kantor semisal gathering customer, dll. Maksud saya sih memunculkan interest Si Sulung Arya agar mengikuti hobby ayahnya. Mestinya interest bermain musik itu sudah muncul tetapi Arya lebih menyukai bermain drum. Pernah juga minta diikutkan les ngedrum, karena sesuatu hal malah akhirnya terhenti. 

Tempo hari suamiku membelikan anak-anak gitar kayu, eh...karena suamiku tidak ada waktu untuk mengajari anak-anak akhirnya gitarnya malah nganggur dipojok kamar. Saya sih inginnya anak-anak mempunyai jiwa seni seperti ayahnya. Itu akan berguna bagi kehidupannya kelak. 

Group Band SEGITIGA suamiku biasanya mainin musik sweet rock ala Bon Jovi. Menurut saya sih, lumayan-lah sebagai group band karyawan. Walaupun gak seperti mereka yang sudah profesional. Saya dan Yunda malah ngefan sama Om Kin-Kin yang suaranya bisa tinggi begitu. Apalagi kalau pas nyanyi lagunya Steel Heart yang berjudul "She's Gone". Suaranya mampu menyamai 4 oktafnya Miljenko Matijevic, penyanyi aslinya.




Saya dan suami mempunyai jiwa kesenian dan berharap menurun pada anak-anak. Jiwa kesenian itu mestinya tidak harus musik. Bisa jadi tari tradisional seperti hobby saya pada waktu SD hingga SMA, atau kesenian yang lain. Semoga. 



Masih ada beberapa dokumentasi performance suamiku bersama bandnya di youtube, monggo bagi yang penasaran pakai key "lovingyamahasbm'. Apakah hobby anda menurun ke anak ?




Paradigma Pendidikan Seks Anak

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.
Ilustrasi Anak
Credit Foto

Tak sedikit orang tua yang memaknai sex hanya sekedar bagaimana laki-laki dan perempuan bercumbu sambil bilang "Oh yes dan Oh no" ketika bergumul di ranjang. Atau hanya sebatas pikiran atas kenikmatan yang tak tergambarkan dengan kata-kata bagaimana puncak orgasme bersenggama itu dicapai dengan berbagai variasi gaya. 

Maaf, saya tidak bemaksud menggiring pemikiran masuk dalam ranah pornografi, atau melewati batas kebiasaan mengolah bahasa tulisan untuk dikonsumsi umum sesuai dengan kepribadian orang timur ketika membaca anotasi diatas. Kalau merasa jengah lalu mengatakan terlalu vulgar dan tabu, maka sebenarnya disitulah letak batasan pemikiran kita yang sebenarnya.

Saya bermaksud mengungkap kembali sebuah paradigma, bahwa (memang) banyak orang tua yang masih malu dan menganggap tabu untuk berbicara tentang sex bahkan sesama orang dewasa. Bisa jadi itu karena keyakinan bahwasannya seks memang hal yang pribadi dan tidak perlu diumbar kepada khalayak. Hal ini tidak salah bila menyangkut dengan kegiatannya, tetapi tidak untuk esensi pendidikannya.
Pertanyaannya, bagaimana kita bisa memberikan pendidikan seks pada anak secara dini ketika pemikiran kita sebagai orang tua masih mengatakan bahwa sex itu tabu untuk dibicarakan?
Memberikan pendidikan seks kepada anak tidak mungkin sefulgar anotasi di atas. Anak mempunyai pemahaman yang berbeda sesuai dengan tingkatan pemikiran anak yang dipengaruhi oleh umur. Jadi kita perlu menggunakan cara-cara yang sederhana dan mudah dipahami.

Bagaimana Memulai ? 
Kita perlu memahami terlebih dahulu bahwa sex mempunyai dua sisi pengertian yang saling berkaitan yakni menyangkut segala sesuatu yang berhubungan dengan "alat kelamin" dan "hubungan kelamin" itu sendiri. Pendidikan seks untuk anak itu merujuk pada pengertian yang pertama yakni yang berhubungan dengan alat kelamin.

Terkait dengan tingkat umur anak, ada beberapa pendapat mengatakan bahwa pendidikan seks bagi anak baik dilakukan sejak anak umur 0 tahun, ada juga yang berpendapat sejak umur 3 tahun. Kedua-duanya sangat baik untuk menambah referensi kita sebagai orang tua.

Untuk menyederhanakan pemahaman, saya lebih cenderung membaginya dalam dua kelompok sebagai berikut :

a. Anak-anak umur dibawah 7 tahun
Secara alamiah anak dibawah 7 tahun sudah mengalami apa yang disebut dengan Excitement Genital (Rangsangan Genital). Walaupun kadarnya sangat berbeda dengan orang dewasa, proses perkembangan seks anak diusia ini dapat dilikat dari kebiasaannya yang sudah mulai memegang organ intimnya, suka bermain dokter-dokteran dan keinginan untuk melihat bagian tubuh teman bermainnya.

Pada anak usia ini, kita harus terbuka untuk menjelaskan kepada anak tentang organ intim yang milikinya. Penyebutan kata penis, vagina dan payudara harus sudah diperkenalkan secara baik. Bukan dengan menggunakan bahasa-bahasa seperti burung, nenen, dan lain-lain.

Orang tua juga harus sudah mengajarkan tentang pentingnya menjaga kebersihan organ intim, tidak boleh memegangnya dengan tangan kotor. Selain itu anak juga harus sudah diajarkan atas "rasa malu" untuk tidak menunjukan organ vitalnya kepada orang lain seperti sehabis mandi dan lain-lain.

b. Anak Usia 8- 13 Tahun
Usia ini adalah yang paling patut diwaspadai karena ancaman mulai muncul pada anak. Anak-anak mengalami perubahan fisik tubuh menjelang pubertas seperti tumbuh jakun, payudara mulai menonjol dan menstruasi. Anak mulai mengekpresikan prilaku diri melalui alat permainan dan tontonan yang dilihatnya. Pada usia ini anak sudah bisa merasakan rangsangan seks walaupun belum dipahami betul olehnya. Anak-anak juga sudah mulai suka berteman dengan teman jenis dan sudah mulai ada dorongan untuk menyukai lawan jenisnya.

Kita berkewajiban memberikan penjelasan tentang perubahan tubuh dan etika berteman. Yang lebih penting lagi adaalah mengajarkan tentang  HARGA DIRI dan KEHORMATAN. Anak perlu diberikan pengertian bahwa dirinya sangat berharga oleh karena itu tidak boleh disentuh sembarangan oleh orang lain apalagi sampai ke alat-alat fital dan tidak boleh sembarangan disalahgunakan.

Melengkapi harga diri dan kehormatan, anak juga diajari KEBERANIAN menolak apabila orang lain mencoba memegangnya dan melapor kepada orang tua

Kendala dan Solusi
Kendala secara umum adalah bagaimana membuat anak mau terbuka kepada kita sebagai orang tua. Bagaimana anak merasa nyaman untuk bercerita dan bertanya tentang hal apapun hasil interaksi dengan teman-teman dan lingkungan.

Dalam kenyataannya, seringkali kita justru menutup peluang tersebut dan selalu bilang "huss..diam..!" ketika anak mulai bercerita atau menanyakan hal-hal seputaran perubahan dalam dirinya atau bermaksud menceritakan pengalaman tertentu, apalagi menyangkut seks. Hal ini menyebabkan anak menjadi takut untuk terbuka. Jadi, Kesalahan besar bagi kita kalau ini terjadi.

Oleh sebab itu, sebagai orang tua kita harus bersikap bijak dan terbuka serta mau menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak. Jangan mengabaikan pertanyaan dan cerita anak walaupun itu sangat tidak masuk diakal. Hal tersebut dipengaruhi oleh tingkat umur anak.  

Sugesti
  1. Pendidikan seks anak sangat penting dilakukan sejak usia dini dengan melihat tingkatan umum; 
  2. Prasyarat dasar pendidikan seks bagi anak adalah keterbukaan dan kemampuan orang tua dalam memposisikan diri sebagai teman sekaligus sahabat, agar anak mau bercerita atas pengalaman interaksi dengan lingkungan, termasuk dalam hal ini adalah perkembangaan seksualitasnya; 
  3. Hal terbaik dalam pendidikan seks anak adalah mengajari tentang rasa malu, harga diri dan kehormatan  sejak dini, bahwa  dirinya terlalu berharga untuk disentuh orang lain. 
Keterlambatan orang tua memberikan pendidikan seks bagi anak,  berarti mendekatkan anak kepada kemungkinan terjadi pelecehan seksual anak (pedofilia) dan tindakan kekerasan seks lainnya. 


Extra Kurikuler Pacu Prestasi Si Kecil

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.
Tk Al Amien Kadisoka
Juara 1 Kelas Pemula - Drum Band TK Al-Amien Kadisoka 

Beruntung sekali saya ada kesempatan memfasilitasi keinginan si kecil Ayunda. Semula saya khawatir sekali dan takut si kecil kecape'an dan jatuh sakit, karena nyaris hampir setiap hari si kecil aktif mengikuti kegiatan-kegiatan extra kuriruler di sekolahnya ( TK ). Melukis, Menari, Drum Band, Renang, Bina Vocal, Murotal, Sempoa dan Bahasa Inggris. Hari Selasa, Rabu, dan Jumat sore dimanfaatkan untuk sekolah TPA di masjid yang tidak jauh dari rumah.

Oleh sekolahnya, siswa yang mengikuti kegiatan tambahan tersebut  sering diikutkan kompetisi antar sekolah di Yogyakarta. Hal ini yang membuat saya cukup senang. Bukan berapa banyak piala yang telah dikumpulkan si kecil, akan tetapi saya memaknainya sebagai sebuah proses pembelajaran yang penting bagi perkembangannya. Kenapa demikian ?

Sarana Bermain & Memunculkan Bakat
Kegiatan tambahan (Extra Kurikuler) menjadi saranan untuk bermain yang produktif di sore hari sekaligus mengembangkan bakat si kecil. Ini jauh lebih bermanfaat daripada hanya sekedar bermain di rumah karena dalam kegiatan tambahan ini ada tentor yang mengarahkan.

Melatih Kemampuan Intrapersonal dan Interpersonal  
Kegiatan tambahan di sekolah akan melatih kemampuan intra personal anak yakni bagaimana harus bersikap dan beraktifitas sebagai seorang pribadi dan juga bagaimana harus menempatkan diri dan bekerjasama sebagai bagian dari sebuah satu team kecil bersama teman-temannya.

Melatih Anak Berkompetisi
Dengan mengikuti lomba-lomba, maka anak akan mempunyai jiwa kompetisi dan bersaing secara baik untuk sebuah prestasi. Peran Orang tua sangat penting sebagai penyelaras mentalnya agar tidak memunculkan kebiasaan berkompetisi yang curang dan tidak sehat. Peran orang tua juga sangat berpengaruh dan     mendasari pemahaman anak untuk tidak sombong bila sebagai pemenang dan bisa menerima kekalahan bila kalah.


Narsis Ibu-Ibu
Ibunya Ikut Narsis
Bila anak tidak mendapatkan warisan harta benda yang berlimpah, maka cukupilah dengan ilmu dan pendidikan. Itu adalah bekal untuk mencarinya kelak. :)
    


Ketulusan Cinta Seorang Ayah

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.

Cinta Seorang Ayah
Ayunda Bermain Dengan Papanya

Papa begitu marah ketika mama bilang hamil lagi ketika itu. Mama menyadari, itu karena Papa begitu sayang dengan Si Sulung Arya. Hingga Papa tidak ingin membagi cinta papa ke Arya dengan yang lain.  

Bahkan ketika putri kita lahir pun eyang kakungnya yang memberi nama, Ayunda, bukan papa! Sampai Ayunda berumur 3 tahun, Papa masih tak acuh dengannya. Demi Tuhan mama tidak menyesal, Pa. Mama lakukan karena mama cinta Arya dan Papa. Mama tidak ingin Arya tumbuh tanpa saudara dan kita kesepian di hari tua. 

Suatu ketika, Papa menangis dan memeluk erat saat Ayunda tergolek lunglai di rumah sakit dengan selang infus di tangan. Sejak itu, setiap saat yang papa tanyakan hanyalah Si kecil Ayunda.  

Foto ini kita buat seminggu setelah Ayunda sembuh. Monumental sekali, bukan?. Ekspresi cinta dan ketulusan seorang ayah kepada putrinya tergambar di sana.   




Waspadai Emon-Emon Lain Di Sekitar Kita

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.

Pedofilia
Google.com

Indonesia kembali menjadi sorotan dunia ketika berita pelecehan seksual anak (pedofilia) di sebuah sekolah paling beken di Indonesia, Jakarta International School (JIS) terungkap ke publik. Kasus JIS ini menjadi pemicu keberanian korban lain untuk angkat bicara dan melaporkan ke pihak berwajib. Menurut catatan Mabes Polri, tahun 2014 telah terjadi 73 kasus pedofilia di 18 Propinsi di Indonesia. Dari total tersebut Riau menempati posisi tertinggi dengan jumlah 64 kasus. Selebihnya terjadi di Jakarta, Jawa Barat dan beberapa tempat lainya.  

Dari semua kasus tersebut yang, membuat ngeri adalah kasus pelecehahan seksual terhadap anak di Sukabumi dengan pelaku Andri Sobari alias Emon. Korbannya diduga mencapai 120 anak. Konon Aksi Emon sudah berlangsung sejak tahun 2005.  

Apa sih pedofilia itu ?
pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan usia 16 atau lebih tua) biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber, umumnya usia 13 tahun atau lebih muda. (Walaupun pubertas dapat bervariasi)

Aktivitas seks yang dilakukan oleh para pedofil sangat bervariasi, misal dengan menelanjangi anak, melakukan masturbasi dengan anak, bersenggama dengan anak. bahkan jenis aktivitas seksual lainnya termasuk stimulasi oral pada anak, penetrasi pada mulut anak, vagina ataupun anus dengan jari, benda asing atau bisa jadi penis.

Modus-Modus Pedofilia
Modul pedofilia yang paling umum adalah pelaku mengiming-imingi uang kepada korban seperti yang telah dilakukan oleh Emon. Dalam beberapa kasus lain, pelaku menggunakan jejeraing sosial untuk menjerat korbannya. Ini seperti yang dilakukan oleh Tjandra Adi Gunawan, seorang Manajer Quality Assurance PT KSM di Surabaya. Tjandara mengaku sebagai dokter reproduksi  perempuan dengan mana samaran Lia Halim untuk memperdaya korbannya sehingga. Dengan modus ini, Tjandra berhasil membujuk untuk mengirimkan foto alat fital korban dengan berbagai pose. 

Ciri Pelaku Pedofilia
Hampir semua pelaku pedofil tidak bisa diketahui ciri-cirinya secara fisik. Tidak seperti para pecandu narkorba dan obat-obat terlarang lainnya. Bagi pelaku Pedofilia tidakannya tersebut juga membuat ketagihan / kecanduan.Oleh karena perilaku pedofil disebut juga sebagai Visual Cracked Cocain (Narkoba Lewat Mata ) atau Erototoxin (Racun Lewat Mata). Inilah yang sangat membahayakan !  

Tindakan Preventif 
Anda dan saya yang mempunyai anak-anak dibawah umur patut waspada atas kejahatan seksual ini. Lalu apa tindakan preventif kita ?  Karena umur anak yang belum bisa mencerna penjelasan secara kompleks maka yang patut dajarkan kepada anak adalah:
  1. PELAJARAN TENTANG MENGHARGAI DIRI SENDIRI, Anak diberi pengertian bahwa dirinya sangat berharga oleh karena itu tidak boleh disentuh sembarangan oleh orang lain, apalagi sampai ke alat-alat fital.    
  2. PENGERTIAN TENTANG PELECEHAN SEXUAL,  Anak juga harus diajarkan untuk mengenal apa itu pecehan sosial. Tentu saja dengan bahasa-bahasa yang disesuaikan dengan tingkat umurnya.
  3. KOMUNIKASI AKTIF ORANG TUA, Orang tua harus membangun komunikasi intensif dengan anak, bertanyalah kepada anak yang tidak hanya melulu pada pelajaran-pelajaran sekolah, akan tetapi juga hal-hal lain terkait interaksi anak dengan teman-temannya dan lingkungan bermain.
  4. PELAJARAN AKIDAH - AGAMA sesuai dengan tingkatan umurnya, misalnya dengan cerita tentang baik dan benar, larangan-larangan dan perintah-perintah agama 

Mari emak-emak, kita selalu waspada dan melindungi anak kita dari segala kemungkinan kejahatan serta pelecehan sexual, sehingga anak-anak dapat menikmati masa kecilnya secara baik.




Hati-Hati Bila Anak Nakal, Kendalikan Emosi Emosi Anda

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.
Cara Mendidik anak
Credit

Namanya juga anak-anak, kalau memang nakal adalah hal yang biasa. Anak-anak belum bisa berfikir ala orang dewasa. Pemikirannya simple dan sesaat sesuai dengan tingkatan nalarnya. Apa yang biasa disebut nakal pada anak-anak memang membuat orang tua terkadang jengkel dan marah. 

Pada titik kejengkelan tertentu, orang tua sering berbicara keras atau membentak anak. Atau bisa-bisa memukul pantat atau bagian tertentu dari anak. Dalam kasus tertentu orang tua bahkan sanggup membunuh anak sendiri karena amarah dan jengkel. Naudzubillah !

Membentak anak atau memukul anak ketika orang tua merasa jengkel dengan tingkah laku anak, secara psikologis berdampak buruk. Ini akan meninggalkan traumatik yang mendalam dalam diri anak. Masa anak-anak itu masa-masa meniru (imitasi) oleh karena apa yang dilakukan oleh orang tua kecenderungan akan ditiru anak. Hal inilah yang akan meninggalkan jejak traumatik tersebut dan bisa menjadi gunung es bagi anak kelak ketika sudah dewasa. Anak cenderung menjadi temperamental kalau menghadapi masalah-masalah serta mengcopy paste apa yang orang tuanya ajarkan dan lalukan kepadanya dulu.

Memberi pengertian anak juga tidaklah mudah. Tingkat pengertiannya yang masih rendah, menjadi hambatan untuk memahami hal-hal tertentu. Mari kita pahami hal ini. Cukuplah bersabar, kendalikan emosi diri atas kenakalan anak. Biarkan sesaat dalam kenakalannya, kenakalan anak itu berarti proses perkembangan jiwanya berjalan. Tarik ulurlah, "ajak berdamai" dengan bujukan-bujukan kecil untuk menenangkannya.

Kenakalan anak kita, itu yang akan kita ridukan ketika mereka dewasa. Bahkan mungkin kelak kita berharap kembali pada masa dimana anak-anak kita nangis merajuk meminta sesuatu atau bertengkar dengan saudaranya dan teman bermainnya.




Tukang Ojek Ini Pahlawan Bagi Keluarga

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.

Pahlawan dalam Keluarga
Siapa yang Photo Hayo?

Kelak jalanan itu akan menjadi saksi. Setiap tikungan yang terlewati menjadi sejarah. Jalan dan tikungan yang terlewati dalam menjalani profesi sebagai "tukang ojek" mengantar buah hati ke sekolahnya. Profesi baru semenjak anak-anak memasuki dunia sekolah, selain profesi tetap sebagai ibu rumah tangga. Sebuah profesi yang penting dalam perkembangan si buah hati. 

Insya Allah, 20 Tahun lagi dari hari ini, jalanan, tikungan dan apapun yang ada disitu akan berkata "selamat ya, atas keberhasilan dan kesuksesan si buah hati" Ah, sepertinya itu yang menjadi "bayaran" setiap tukang ojek seperti saya. Hem,...masih beruntung sepertinya bagi anak-anak jaman sekarang, dibandingkan masa-masa bapak-ibunya dulu, dimana pergi ke sekolah harus jalan kaki berkilo-kilo. Atau naik angkutan "bis tuyul" bagi yang uang sakunya cukup. 

Saya menikmati sekali kesempatan ini dimana tidak semua ibu mampu dan mau melakukannya. Saya tidak terjebak pada pragmatisme hidup sebagai wanita karier dimana karena kesibukan harus menyerahkan hidup anak dan keluarga pada sosok pembantu.

Hidup cuman sekali dan paling lama mungkin 100 tahun. Jadi, saya ingin menjadi sosok ibu yang sejati. Menjadi pahlawan bagi keluarga. Itu saja. !

Saya menunggu, kelak putra-putriku akan mengajaku melewati jalan itu kembali dengan suka cita. Dan akan aku ceritakan kembali bagaimana saat dulu untuknya.


  


Akhirnya Khatam Al-Qur'an

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.

Ayunda Berjilbab


Tiada kata yang dapat mewakili kebahagiaan ini, saudara. Selain memanjatkan Puji syukur, Alkhamdulillah bahwasannya apa yang terjadi itu berkat rahmat-Nya semata. Ayunda yang masih duduk di TK Nol besar akhirnya telah mengkatamkan Al-qur'an pada hari minggu malam senin (12/4). 

Bagi sebagian orang ini mungkin menjadi hal yang biasa saja. Akan tetapi tidak bagi saya dan keluarga. Kenapa demikian ? Karena pada saat saya seumuran Ayunda tidak menemui pengalaman seperti ini. Bahkan belum bisa mengkhatamkan Al-qur'an saat itu. 

"Pa, adek udah khatam Al-Qur'an"  kata Ayunda. Disamping Papanya yang masih bergelut dengan komputer.

"Selamat ya sayang, minta hadiah apa, sayang" tanya papanya yang mencoba menyenangkan hati.

"Entar dibeliin crayon sama buku gambar aja ya, Pa" Katanya manja. Permintaan yang begitu sederhana yang membuat saya bangga. 

"Adek boleh telpon utik ya, pa?" sambung Ayunda. Dibantu mamanya Ayunda pun meraih gagang telpon dan mulai cerita ini dan itu kepada utiknya yang ada di Brebes.

Terdengar permintaan, bahwa Ayunda ingin utiknya ke Jogya saat wisudanya nanti, karena ingin utiknya mendampingi penerimaan pialanya  Oh, sekali lagi sebuah permintaan yang sederhana. 

"Yeee....benar ya utik, nanti mbak meilin di ajak." Rayu Ayunda lagi. Meilin adalah putri paling buncit dari kakak istri. Dan Ayunda memang sayang sama Meilin. 

Mama dan papa sangat bangga padamu, Cah Ayu. Semoga kelak engkau menjadi anak yang Sholehah, tetap dalam jalan Iman dan Islam, berhasil kehidupanmu, selalu di Ridloi Allah dan Selamat dalam kehidupuan dunia-akhiratmu. Amien.

 Kebahagiaan orang tua itu Sederhana, Bila anak berhasil dalam hidupnya. Patuh dan Taat, serta tidak memaksakan diri diluar kemampuan orang tuannya.   



Ini Tentang Ayunda

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.

Kayla Ayunda Narapramesti


Siapakah Ayunda? Gadis kecil berparas cantik ini masih belajar di bangku Taman Kanak-Kanak. TK Al-Amien Kadisoka Kalasan Sleman Yogyakarta. Tahun ini adalah tahun terakhir baginya, karena Insya Allah tahun depan sudah lulus dan melanjutkan ke Sekolah Dasar.

Satu hal yang membanggakan dari Ayunda adalah dia menjadi idola dan siswa paling favorite di sekolahnya. Banyak guru yang bilang kalau Ayunda itu anak yang "ngemong" sama teman-temannya. Suka menolong dan melindungi adik kelasnya.

Ayunda sangat rajin kalau disekolahnya. Sepertinya berbeda bila dirumah. Sifat kekanak-kanakannya terlihat sekali kalau dirumah. Bertengkar dengan kakaknya, rebutan remote TV, menangis dan manja menjadikan rumah seru dan ramai. Satu hal yang pasti akan dirindukan kelak bila mereka sudah menginjak dewasa.

Selepas magrib, ayunda belajar mengaji sama mamanya. Tak terasa sekarang sudah hampir khatam. Insya Allah Juz 30 akan diselesaikannya dalam minggu ini. Ayunda ingin mendapatkan dua piala dalam wisuda TK nantinya, yakni sebagai siswa berprestasi terbaik dan salah satu siswa yang telah khatam al-Qur'an.

Yah, Kayla Ayunda Narapramesti, begitu dulu kami menamainya. Sebuah nama perpaduan jawa dan sanksekerta yang berarti seorang ratu perempuan cantik dan berbudi luhur. Pelipur lara dan pelengkap kehidupan kami.


Kisah Ibu dan Anak - Juara Lomba Hafalan Surat Pendek Al-Qur'an

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.

juara 1 hafalan al quran


{وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى}
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” 
(QS an-Najm:39).

Dua orang MC lomba yang cantik dengan jilbabnya berdiri ditengah panggung (Semoga Istriku gak cemburu aku memuji Wanita lain). Uh..suaranya begitu merdu di telinga. "Adik-adik, saatnya kakak umumkan lomba ya." Katanya saat memandu acara kembali setelah terpotong oleh aksi pentas anak-anak TK yang polos dan lucu.

Saya bergegas mendekat panggung melewati kumpulan orang tua murid yang menunggu hasil jerih payah putra-putrinya mengikuti lomba. Wajah istriku yang duduk ngengsot ditikar depan panggung kulihat sedikit tegang. Entah apa yang dipikirkannya. Sepertinya berharap sekali Ayunda menang. Maklum saja dialah yang dengan sabar mengajari dan membimbing Ayunda belajar setiap harinya. Padahal saya selalu menasehatinya, bahwa dalam sebuah kompetisi harus siap menang juga harus menyiapkan mental kalau kalah. Biar 'gak stress seperti para caleg yang gagal itu. :)

Sejurus kemudian, dua MC cantik tersebut membacakan hasil lomba, diawali lomba yang pertama yakni lomba Wudhlu. Kebetulan sekali setiap peserta hanya boleh mengikuti satu lomba saja jadi Ayunda pun terpaksa mengikuti aturan tersebut, walaupun maunya ingin mengikuti semua lomba yang diadakan. Namanya juga anak-anak, kan.

Berturut-turut kemudian adalah pengumuman lomba mengancingkan baju dan puzzle. Setelah rangkaian acara penyerahan hadiah kedua lomba tersebut berakhir, tiba saatnya pengumuman lomba hafalan surat pendek Al-Qur'an. Aku melirik ke tempat istriku duduk. Wajahnya terlihat semakin tegang. Dag...dig...duk begitu detak jantungnya barangkali. Gak ada senyum. Wajahnya kaku memandang lurus kedepan panggung. (Kecuali kejatuhan uang satu gepok dipangkuannya barangkali baru bisa senyum kaleeeee!).

"Juara ke-3, dengan nilai 255 Jatuh kepada nomor undian 5". Kata MC. Duerrrrr.....Istriku semakin tegang dan bertambah tegang kelihatanya. Wajahnya berubah rona. Aku tersenyum geli melihatnya. 

"Selanjutnya, Juara ke-2, dengan nilai 265, adalah nomor undian 6". teriak MC lagi. Jedoooooooor...Posisi duduk istriku sedikit berubah. Dengan tangan dipangkuan dia menghela napas panjang. Kepala sedikit mengongak ke atas. Bibirnya bergerak-gerak, komat-kamit seperti mbah dukun baca mantra.  Sepertinya sedang berdoa. Entah apa yang dibacanya, apakah doa mau makan atau doa mau tidur, siapa yang tahu he..he...? 

"Dan.....Juara pertama.....dengan nilai 305 jatuh kepada nomor undian 7". Beeeetttttttt....Lega sudah! Istriku bisa tersenyum lebar dan tanpa sadar kedua tangannya mengepal keatas sambil bilang Yeeeeeeee Lumayan keras, hingga seorang ibu yang disampingnya terkaget-kaget. 

Ya, Ayunda tampil sebagai Juara Pertama lomba hafalan surat pendek Al-Qur'an untuk yang ke-sekian kalinya. Kali ini dia berhasil menyingkirkan 20 orang peserta perwakilan dari TK-TK terbaik di Yogyakarta. Ini merupakan piala yang ke-13 yang didapatkannya. 

Selamat ya Mam, telah menghantarkan Ayunda kembali jadi juara ! 

Dicopy dari om-rhomairamin.blogspot.com



RECENT


        Emak-Emak Blogger         Blogger Perempuan         Blogger Reporter Indonesia
Modified by Yuni Andriyani 2014. Diberdayakan oleh Blogger.